Keterangan Gambar : PT Pertamina International Shipping berkomitmen menjaga distribusi energi dan menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak bencana di Sumatra dan Aceh.
JAKARTA, konklusi.id - Cuaca buruk tak hanya menguji daratan Sumatra yang dilanda banjir. Di laut, tantangan justru datang berlipat. Ombak tinggi, angin kencang, hingga kapal yang nyaris tak bisa bersandar menjadi risiko harian armada PT Pertamina International Shipping (PIS) dalam menjaga distribusi energi dan menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak bencana.
Di tengah kondisi ekstrem itu, PIS memilih tetap bergerak.
Sejumlah kapal tanker dikerahkan tak hanya membawa BBM dan LPG, tetapi juga
sembako untuk warga terdampak banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Salah satu kisah datang dari jalur Sibolga. Bantuan sembako
dibawa melalui tanker MT Kamojang dan MT Kasim dari Teluk Kabung. Di tengah
perjalanan, bantuan dipindahkan ke kapal Mooring Boat Transko Tawes milik PT
Pertamina Trans Kontinental (PTK). Namun ujian belum berakhir. Kapal kandas di
perairan dangkal, memaksa awak kembali memindahkan muatan ke perahu kecil agar
bantuan tetap tiba di Pelabuhan Terminal BBM Sibolga.
Perjalanan bantuan itu memakan waktu empat hari sejak 29
November 2025. Bagi awak kapal, tiap jam di laut adalah pertarungan antara
ketepatan distribusi dan keselamatan nyawa.
Cerita lain datang dari geladak kapal tanker yang
dikemudikan Captain Dona Kurnia. Saat membawa BBM dari Cilacap menuju Wayame,
cuaca di Laut Bali dan Laut Banda berubah drastis. Angin menerjang, ombak
membesar, kapal rolling hebat. “Barang-barang di kapal sempat berantakan. Tapi
kami tetap fokus menjaga keselamatan dan kargo,” ujarnya.
Menurut Dona, musim cuaca buruk menuntut kesiapsiagaan
berlapis. Mesin harus prima, lashing kargo diperketat, rute dipilih seaman
mungkin, dan kondisi fisik kru dijaga. Di laut, satu kelengahan bisa berujung
panjang.
Di sisi pasokan energi, PIS juga berjibaku menjaga
distribusi tetap aman. Di Fuel Terminal Medan, tiga kapal berisi 280 ribu barel
Pertalite dan 30 ribu KL solar sempat tertahan sejak 23 November akibat cuaca
buruk, sebelum akhirnya berhasil sandar pada 1 Desember. Selama masa tunggu,
alih distribusi dilakukan dari Lhokseumawe, Kisaran, hingga Siantar melalui
truk tangki.
Tak berhenti di situ, PIS mempercepat pasokan dengan
menyiapkan dua kapal tambahan berisi 100 ribu barel Pertalite dan 6.000 KL
solar untuk wilayah Sumatra. Sebanyak 332 kapal tanker dan 338 kapal pendukung
disiagakan untuk memastikan distribusi energi tetap bergerak selama periode
Nataru 2025/2026. (uyu)
Tulis Komentar